Kuliner ini dibuat dengan cara yang melibatkan genggaman tangan hingga menghasilkan kue yang keras dan tahan lama.
Hal ini menjadi simbol bahwa segala perdebatan yang terjadi dalam Marhusip bertujuan untuk mencapai keputusan yang kokoh.
Menurut TM. Sihombing (1977), kondisi Marhusip diibaratkan seperti “purpe pande dorpi jumadihon tu rapotna,” yang dapat diartikan sebagai tukang kayu yang menciptakan dinding dengan suara ribut dan gaduh untuk menghasilkan dinding papan yang kokoh, rapat, dan kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
4. Lemang
Lemang merupakan salah satu makanan khas Sumatera Utara yang diakui berasal dari budaya Melayu, sehingga tersebar luas di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, merupakan salah satu daerah yang dikenal paling mudah untuk menemukan lemang. Bahkan, salah satu kota di sana, Kota Tebingtinggi, dijuluki sebagai ‘Kota Lemang’.
Makanan ini terbuat dari beras ketan yang telah dicampur dengan santan, kemudian dimasak dalam proses yang melibatkan penggunaan bambu.
Biasanya sebelum dimasak dalam bambu, nasi ketan akan dibungkus dengan daun pisang atau daun pisang dimasukkan ke dalam bambu sebelum nasi ketan dimasukkan.
Proses memasak lemang memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam cara pembakarannya.
Bambu biasanya dibakar dengan posisi tegak menghadap api.
Setelah matang, lemang bisa dinikmati langsung atau disajikan dengan lauk pendamping.
Di Indonesia, masyarakat sering menambahkan isi berupa cita rasa manis seperti kinca, serikaya, atau selai saat mengonsumsinya.
Namun, ada juga yang menambahkan rendang, telur, dan berbagai lauk pauk lainnya. Bahkan, lemang bisa dinikmati bersama dengan buah seperti durian.







