Kepala Kemanusiaan PBB, Martin Griffiths, mengatakan dia “merasa ngeri” karena “rumah sakit bukanlah medan pertempuran”.
Situasi kemanusiaan memburuk
Dr Ahmed Mokhallalati, seorang ahli bedah plastik di RS Al-Shifa, mengatakan kepada BBC bahwa rumah sakit tersebut kekurangan listrik, oksigen dan air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada Selasa (14/11), operasi penting telah dilakukan tanpa anestesi yang tepat dan pasien “menjerit kesakitan”.

Para dokter tidak dapat membantu satu pasien yang mengalami luka bakar karena kurangnya peralatan termasuk ventilator dan harus “membiarkannya meninggal”.
BACA JUGA : Puluhan Ibu Hamil di Gaza diperkirakan akan Meninggal karena Melahirkan Sendirian di Rumah
Tidak ada operasi yang dapat dilakukan pada Rabu (15/11), kata dokter Ahmed.
Militer Israel mengeklaim pasukannya menyediakan inkubator, makanan bayi, dan pasokan medis ke rumah sakit.
“Mengapa mereka tidak bisa dievakuasi?” kata dokter Ahmed tentang bayi-bayi di rumah sakit. “Di Afghanistan mereka mengevakuasi kucing dan anjing.”
“Di manakah ICRC [Palang Merah]?” dia menambahkan. “Di mana pemerintah Inggris dan Amerika? Apakah semua orang hanya menunggu kita semua mati di sini dan kemudian mengatakan kita adalah ‘orang baik’?”
Meskipun Israel sebelumnya menyatakan siap mengizinkan staf dan pasien untuk dievakuasi, warga Palestina mengatakan pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah mereka dan terlalu berbahaya untuk memindahkan pasien yang rentan.
BACA JUGA: Jual Nama Palestina, Dua WNA Minta Sumbangan Maksa Sampai Masuk Rumah Ditangkap Warga Cengkareng
Para saksi menggambarkan kondisi yang mengerikan di dalam rumah sakit, dengan banyak keluarga yang kekurangan makanan atau air dan tinggal di koridor dan bau mayat menguar di udara.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “sangat prihatin dengan dampaknya terhadap orang-orang yang sakit dan terluka, staf medis, dan warga sipil”.






