“Oh iya, nanti tidur aja duluan. Ntar kita susul,” ucapnya menjawab Nanda
ia dan Andi pun lanjut ngobrol sambil memakan kue pemberian pak Hardi tadi. Tak terasa, sudah jam dua malam waktunya gantian jaga.
Mereka pun membangunkan Karim, Ayah, Puncu dan Ahmad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah membangunkan, mereka pun berganti tidur dan keesokan harinya, ia pun terbangun dan terlihat Nanda sudah diluar tenda sambil sedikit olahraga kecil.
Setelah semua bangun, mereka pun bergegas mempersiapkan peralatan untuk membuat konten. Tapi anehnya, Ayah, Uncu dan Karim wajahnya memelas seperti ketakutan.
“Uncu, karim kalian semalam aman-aman aja kan,” tanyanya dengan nada heran.
Tanpa memberi jawaban, Uncu memberi isyarat untuk diam.
Singkat cerita syuting pun berlangsung lancar dan bagus. Warga disana juga ada yang kami ajak untuk ikut serta dan sempat berkunjung juga ke rumah beberapa warga yang ada di sana.
Mereka pun disambut dengan baik dan diberikan suguhan. Mereka pun sempat menghadiri sebuah acara adat. Disana mereka dijamu dan diajak makan bersama oleh para warga setempat.
Saat itu, ia melihat Nanda kembali ke tenda karena mungkin ada suatu urusan.
Tak terasa sudah jam 05.00 sore, barulah syuting selesai dan mereka pun kembali ke tenda untuk beristirahat sejenak.
Sambil berbincang mengenai warga yang lumayan welcome kepada mereka, terlihat senja merah dan maghrib pun tiba.
Lalu mereka masuk kedalam tenda dan tiba-tiba.
“Nak, Nak, Nak,” terdengar suara perempuan yang bernada berat.
“Ada apa Bu,” jawab ayah setelah tahu itu adalah buk Atik.
“Kalian sudah makan, ayo ke rumah ibu. Ibu masak makanan enak hari ini,” ucap Buk Atik
“wah pas banget Bu, kami semua lagi laper dan bahan makanan kami sudah menipis,” Jawab ayah
Bu Atik pun tersenyum, sambil mengajak mereka ke rumahnya. Mereka pun membereskan tenda, karena sudah berencana untuk pulang malam itu juga.
Setelah sampai dirumah buk Atik, mereka disuguhkan makanan yang enak. Walaupun sederhana mereka makan dengan lahap tanpa curiga.






