“Oh iya pak, terima kasih kalau begitu Kami mau langsung ke sana ya Pak,” kata pak Iwan sambil menyalami pak Hardi.
Setelah itu mereka pun meninggalkan rumah dari pengurus Kampung tersebut dan langsung menuju ke lapangan yang mereka maksud.
Setelah sampai lapangan, mereka langsung mendirikan tenda. Sambil mendirikan tenda, ia sempat bergibag dengan nanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Nan, selama masuk kampung ini menurut kau ada yang aneh enggak,” ucapnya kepada Nanda.
“udah dari pertama Jalan, sumpah perasaanku udah nggak enak kali,” jawan Nanda.
“Oh ya udahlah, mau gimana lagi perjuangan biar konten kita menarik,” ucapnya sambil ketawa kecil yang sedikit ia paksakan.
“ia lah, setelah ini berakhir aku nggak akan mau ke sini lagi,” jawan Nanda
Malam itu, total ada empat tenda yang mereka dirikan.
Setelah tenda berdiri, mereka pun beristirahat sejenak dan berfoto-foto ria. Tak terasa, waktu maghrib pun tiba.
Saat itu, mereka semua nggak ada yang salat, semua berada didalam tenda sambil bercerita mengenai rencana besok.
Tak terasa sudah pukul 09.00 malam, dan sebagian dari mereka sudah ada yang tertidur karena kecapekan di jalan. Sedangkan sebagian lagi berjaga di dalam tenda.
Ia bersama dengan Nanda dan juga Andi membuat satu gelas kopi untuk diminum bertiga. Setelah kopi habis, terdengar suara langkah kaki yang bergesekan dengan rumput lapangan.
Mereka bertiga yang mendengar itu diam mematung.
“Vin itu siapa, Masa iya ada orang malam-malam gini sih,” tanya Andi dengan nada setengah takut.
“Lah mana saya tahu. saya akan ikan,” jawabnya sedikit bercanda biar suasana tidak terlalu tegang.






