“saya pamit dulu,” lanjut Buk Atik dan langsung membalikkan badan lalu pergi.
Saat itu feelingnya dan Nanda tiba-tiba nggak enak.
“Om apa enggak sebaiknya kita cari tempat lain aja. Perasaanku dan Kelvin campur aduk nih,” kata Nanda ke pak Iwan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ya udah ah jangan mikir yang aneh-aneh, semangat dong demi konten,” jawab pak Iwan menyemangati.
“Ya sudah Yuk, kita ke tempat pengurus Kampung dulu,” ajak Pak Iwan
Mereka pun langsung mencari tahu tempat pengurus Kampung. Saat itu mereka sempat nyasar dan setelah bertanya-tanya ke warga sekitar akhirnya mereka bisa bertemu dengan pengurus kampung.
“Assalamualaikum Pak,” ucap Pak Iwan mengucap salam kepada seorang lelaki tua yang kami pikir sebagai pengurus kampung.
“Waalaikum salam Pak, Ada yang bisa saya bantu,” kata bapak tua itu menjawab salam dari pak Iwan.
Sebuah perkenalan singkat yang akhirnya membuat mereka tahu bapak tua tersebut bernama pak Hardi.
“Jadi gini Pak, kami dari kota Tanjungpura berencana mau membuat konten di kampung ini Pak. Jadi kami mau izin dulu sama bapak sebagai pengurus kampung,” ucap Pak Iwan meminta izin
Pak Hardi pun tiba-tiba sejenak menundukkan kepalanya seakan terkejut dengan permintaan Izin Pak Iwan
“Rencananya Bapak dan rombongan mau nginep dimana,” kata pak Hardi yang seketika itu suaranya berubah menjadi berat.
“Tadi kami nggak sengaja melewati lapangan pak, kalau bapak berkenan kami akan buat tenda disana,” ucap Pak Iwan
“Ya sudah Pak, asal selama disini saya mohon perilakunya dijaga karena disini masih sangat terjaga ada dan budaya yang mungkin sudah tidak ada lagi di kota Bapak. paham kan,” kata pak Hardi dengan tegas
“Iya Pak saya paham, Ya sudah semoga nyaman ya Pak dan semoga suka sama kampung ini,” ucap pak Hardi sambil tersenyum bengis, mirip senyuman dari Buk Atik tadi.






