Namun, karena jumlahnya kalah, JND akhirnya terpojok dan diancam oleh orang asing tersebut. Dia kemudian kembali ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada A.
Kapolres menyatakan bahwa keterangan ini dianggap tidak masuk akal, sehingga JND diamankan oleh polisi.
Selanjutnya, polisi fokus pada olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengkonfirmasi hasilnya dengan keterangan dari JND. Akhirnya, JND mengakui bahwa dia lah pelaku pembunuhan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolres juga mencatat bahwa pada awalnya tersangka tidak menunjukkan penyesalan atas perbuatannya ketika memberikan keterangan kepada polisi. Namun, setelah mengakui perbuatannya, dia mulai terlihat menyesali perbuatannya.
Motif di Balik Kejahatan
Meskipun motif awalnya tidak jelas, namun penyelidikan telah mengungkapkan kemungkinan motif di balik kejahatan ini. Konflik internal dan persoalan pribadi di antara anggota keluarga dan tersangka diduga menjadi pemicu dari tindakan keji tersebut.
AKBP Supriyanto mengungkapkan bahwa rumah korban dan rumah tersangka berjarak sekitar 20 meter saja.
“Tersangka kami tangkap di rumahnya beberapa jam setelah kejadian,” ujar Supriyanto.
Supriyanto menjelaskan bahwa J telah mengakhiri hidup Waluyo (35) beserta istrinya, Sri Winarsih (34), dan ketiga anak mereka, yakni R (15), V (10), dan Z (2,5), dengan menggunakan parang secara sendirian.
Sebelum melakukan perbuatannya, tersangka yang masih berstatus sebagai pelajar di salah satu SMK swasta di PPU ini sempat mematikan aliran listrik di rumah korban.
“Dia mematikan saklar listrik sebelum memasuki rumah,” tambah Kapolres.
Motif di balik tindakan pembunuhan ini, menurut Kapolres, dikarenakan tersangka berada dalam pengaruh minuman keras. Dalam keadaan setengah sadar itu, tersangka mendatangi rumah korban dengan niat untuk mencuri.
“Motif sementara ini, korban dalam kondisi setengah mabuk dan berniat mencuri di rumah korban lalu ketahuan oleh korban Waluyo,” ungkap Supriyanto.
Setelah diketahui, pelaku segera menyabetkan parang yang dibawa dari rumah kepada Waluyo. Akibat serangan parang tersebut, Waluyo mengalami luka parah di bagian kepala dan akhirnya meninggal.
Aksi brutalnya tidak berhenti di situ, dia melanjutkan untuk mengakhiri nyawa anak pertama Waluyo, R, yang masih berusia 15 tahun karena berteriak.
Tak hanya itu, pelaku melanjutkan kebrutalannya dengan menghabisi nyawa istri Waluyo, Sri Winarsih, dan dua anaknya yang masih balita, V dan Z.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






