“Jadi gimana caranya (anak-anak) ini dapat duit untuk bisa main judi.”
Bocah-bocah itu, sambungnya, mengetahui judi slot dari streaming gim di YouTube lantaran akses mereka terhadap internet tak pernah putus.
Dari situ mereka (anak-anak) mulai menggunakan uang saku pemberian orang tua – entah berupa tunai atau uang elektronik – untuk didepositkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan pengakuan mereka, deposit slot atau pasang taruhan tak melulu pakai rekening bank.
Ada cara lain yang lebih gampang: beli atau berbagi pulsa dan mengirim via dompet atau uang elektronik dengan nominal Rp10.000.
Kalau uangnya habis gara-gara kalah judi, perilaku mereka tak terkendali.
“Yang saya lihat ngamuk, banting-banting barang. Jadi lebih sensitif, bawaannya spaneng (stres) terus… misalnya disenggol sedikit meluap-luap…”
Di sinilah persoalannya, kata dokter Denta.
Dalam jangka panjang kualitas hidup mereka akan makin terpuruk. Hal-hal buruk bisa terjadi kapan saja, katanya. Mulai dari tak ada gairah hidup, tak bisa fokus bekerja, bahkan terlilit utang.
“Yang paling fatal bunuh diri,” ucap dokter Denta.
BACA JUGA: Ini Alasan Kenapa Judi Online dan Slot Sulit untuk Dibersihkan di Facebook
Dokter Denta menambahkan, anak-anak yang datang padanya terbilang beruntung. Sebab orangtua mereka punya kesadaran dan dana untuk berobat
Tetapi bagaimana dengan bocah-bocah yang ekonominya pas-pasan dan jauh dari akses kesehatan. Sedangkan penetrasi digital sudah sangat masif.
“Jangan sampai tinggal menunggu waktu semuanya kecanduan judi online, persoalan ini sudah krusial.”
Halaman : 1 2






