Ketika sudah tersungkur dokter lalu mendekat dan memeriksa kembali lagi dan ternyatadia masih hidup dan masih ada detak nadinya.
“Masih ada detak nadinya,” ucap sang dokter kepada regu penembak.
Salah seorang penembak diminta untuk kembali menembak tepat dijantung, tapi nyatanya ia masih bernafas dengan tubuh yang menggetar. Setelah percobaan penembakan ketiga, barulah dukun tersebut dinyatakan meninggal oleh dokter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pak Santoso pun kemudian menceritakan pengalaman lainnya, bertemu dengan para teroris bom bunuh diri yang juga terkena hukuman mati. Sebagian dari mereka ada yang mengakui kesalahannya dan bertobat di jalan Allah, tapi ada pula yang sampai mati pun masih kuku terhadap pemahaman yang salah, sebab ia meyakini, apa yang ia kerjakan adalah benar.
Yang paling berkesan, ketika Pak Santoso menyaksikan hukuman mati para gembong pengedar narkotika. Mungkin kalian pernah mendengar kasus-kasus para Bandar narkotika yang menggegerkan publik.
Salah satu kisah haru yang Pak Santoso saksikan dibalik penangkapan sembilan orang yang akan siap dihukum mati, ada beberapa dari mereka yang benar-benar melakukan pertobatan menurut kepercayaannya masing-masing.
Bahkan salah satu diantaranya yang sebut saja inisial D saat menjelang penembakan mati, ia meminta untuk membuka penutup matanya sambil menyanyikan lagu puji-pujian. Ia mengaku telah siap menerima hukuman itu.
Ada pula kasus narkoba terpidana mati yang mencitrakan sosok religius menjelang kematiannya. Tapi saat masih dalam sel sempat tertangkap masih melakukan jaringan jual beli barang haram tersebut.
Dari dalam jeruji besi dari beberapa cerita pengalaman-pengalaman. Beliau menarik kesimpulan, jika sebenarnya ada dua kategori manusia yang pernah melakukan tindak kejahatan.
Pertama ada yang melakukan kejahatan lalu benar-benar bertaubat menyesali kesalahannya kembali di jalan yang benar. Terakhir ada yang sampai akhir hayatnya belum mengakui kesalahan serta juga mengucapkan kata tobat.
Sekarang kita masuk ke bagian dua yaitu pengalaman-pengalaman mistis seputar penjara Nusakambangan, apalagi di bekas tempat untuk eksekusi mati yang katanya sih cukup angker untuk warga sekitar.
Sejarah Pulau Nusakambangan: Dari Benteng Karang Bolong Hingga Penjara Terkenal
Pulau Nusakambangan, yang sering disebut sebagai “Alcatraz-nya Indonesia”, memiliki sejarah yang kaya akan peristiwa penting dalam pembentukan dan perkembangan wilayah Indonesia.
Dengan asal-usulnya yang berawal dari pembangunan benteng Karang Bolong pada tahun 1836 oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), pulau ini menjadi pusat strategis dalam pertahanan dari ancaman bajak laut di Pantai Selatan Jawa.
Pembangunan benteng tersebut, meskipun dihambat oleh wabah malaria, berhasil diselesaikan dengan menggunakan tenaga narapidana. Ini menjadi awal dari peran Pulau Nusakambangan sebagai tempat penahanan narapidana, yang kemudian berkembang menjadi tempat eksekusi mati bagi para narapidana kelas kakap seperti Amrozi dan Muklas, pelaku Bom Bali.






