Di sudut lain dalam ruang makan khusus atau terpidana mati, pandangan Pak Santoso tidak sengaja melihat salah seorang napi yang tertutup di bawah lantai dengan sebuah mangkok.
Pak Santoso kemudian menerka-nerka, makanan apa yang membuatnya ngelamun kayak ngelihatin cewek cantik.
“Eh kamu Marno bikin kaget aja, Nggak aku cuma lagi perhatiin itu napinya kok agak aneh sih. Memangnya permintaan makan terakhirnya apa,” tanya Pak Santoso.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sipir lainnya pun meminta pak santoso, untuk nggak usah diliatin pemandangan tersebut.
“Sudah, nanti kamu bisa muntah. Masa napi yang bernama Atep itu mau makan lima macam kotoran hewan. ini memang sinting itu,” Ucap pak Marno sambil bergidik geli.
“Lho kok bisa gitu dia, bukanya kalau orang gila seharusnya tidak dihukum, apalagi sampai dihukum mati,” tanya Pak Santoso
Dia itu sambung Marno, sebenarnya tidak gila. Jadi katanya sih, waktu muda dia menimba ilmu hitam ke suatu daerah dan saat pulang sudah membuka praktek perdukunan.
“Nah yang buat dia sampai bisa divonis hukuman mati, si napi yang bernama atep itu membunuh lima orang pasiennya dan ia kubur di pekarangan rumahnya belum lagi ternyata dia sudah mencabuli lebih dari 10 wanita,” terang Pak Marno.
“Loh kenapa pasien harus dibunuh Marno,” tanya Pak Santoso lagi.
“Biasalah dengan iming-iming Pegadaian uang, Setelah tiba di hari yang dijanjikan para korban itu menagih uang mereka kembali kepadanya. Bukanya uang yang dikembalikan justru, satu persatu ia mencabuli 10 wanita dengan dalih pembersihan aura negatif, karena di kemaluan korban ada genderuwo nya. Korban yang datang mengeluhkan, mereka sulit jodoh sulit dapat momongan pasang,” jawab Marno
Pak Santoso pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, karena sungguh sulit diterima oleh akal sehat manusia. Saat malam hari para napi vonis hukuman mati langsung diarak menuju ke tempat eksekusi yang terdiri dari tiga kloter.
Satu kloter, satu orang penembak yang sudah disiapkan di lapangan kosong untuk mengeksekusi para terpidana mati dan juga seorang dokter yang juga telah disiapkan untuk mengecek keadaan mereka setelah penembakan tersebut.
Kloter pertama, diisi oleh Tofa yang matanya ditutup rapat oleh kain hitam dan tangannya diikat di sebuah tiang kayu. Setelah semua sudah siap dan dor, satu buah peluru tepat menembus masuk kedalam jantung Tofa.
Baik terpidana mati atau si penembaknya pun, gak tahu senapan yang ia gunakan itu ada pelurunya atau tidak. Jadi dalam satu kloter biasanya ada empat sampai lima regu tembak dan mereka tidak tahu senapan yang mereka pakai itu telah terisi peluru atau tidak.
Seketika tubuh, Tofa ambruk dengan tangan terikat. Dokter dari kepolisian dengan Sigap mengecek denyut nadi dan jantungnya dan tidak lama ia menutup kedua mata Tofa yang masih mendelik.
“Innalillahi wa Innalillahi roji’un. Iya sudah wafat,” ucap sang dokter setelah Tofa
Sesi berikutnya adalah Atep si dukun cabul dan dukun pembunuh berdarah dingin itu. Sebelum ia dieksekusi, berucap segala macam sumpah serapah yang keluar dari bibirnya sampai pada akhirnya satu peluru kemudian bersarang lagi tepat di jantungnya.






