Situasi seperti ini membuat rumah sakit lumpuh.
“Ya lumpuh, pasokan bahan bakar untuk listrik tidak ada, obat ludes… tapi mereka tetap mencoba melakukan yang terbaik. Kalau tidak ada lampu, pakai senter atau dilakukan di siang hari.”
RS Indonesia sudah berkali-kali kena serangan

Sebagai gambaran, RS Indonesia yang terletak di Bait Lahiya, Kegubernuran Gaza Utara, Jalur Gaza, Palestina adalah salah satu yang terbesar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sarbini menyebut rumah sakit ini setara dengan RS Fatmawati di Jakarta.
Bangunannya memang dirancang tebal sehingga kuat terhadap guncangan.
Bangunan RS Indonesia terdiri dari lima lantai dan mampu menampung 130 pasien. Jumlah tenaga medis yakni dokter dan perawatnya sekitar 800 orang.
RS Indonesia ini dibangun pertama kali pada Mei 2011 dari sumbangan masyarakat Indonesia yang digalang oleh MER-C. Dana yang terkumpul mencapai Rp126 miliar.
Pada 2015 rumah sakit ini diresmikan oleh mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, dan menjadi tumpuan bagi warga Palestina selain RS Al-Shifa.
“RS Indonesia sangat penting keberadaannya, dalam kondisi normal dan tidak pun. Dulu masyarakat kalau berobat harus ke Al-Shifa yang lokasinya jauh. Sekarang cukup ke RS Indonesia dengan fasilitas terbaik.”
BACA JUGA: Jual Nama Palestina, Dua WNA Minta Sumbangan Maksa Sampai Masuk Rumah Ditangkap Warga Cengkareng
Karenanya, dia mengatakan kalau sampai RS ini kolaps akibatnya sangat fatal. Sebab rumah sakit ini satu-satunya tumpuan setelah RS milik negara lain hancur lebur kena serangan.
Sebelumnya, RS Indonesia pernah mengalami beberapa kali penyerangan dan pengeboman yang mengakibatkan dua orang tewas dan sejumlah orang lain luka-luka pada November 2011.
Pada tahun 2021, RS Indonesia kembali mendapat serangan dari serbuan Israel ke Gaza. Untungnya, serangan Israel tidak melukai staf medis dan pasien.
Bantuan tak bisa masuk ke Gaza
Sarbini berkata bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina maupun rumah sakit sebetulnya ada, namun dicegat Israel sehingga tak bisa masuk ke wilayah utara Gaza.
Pasalnya pintu perbatasan di Rafah sudah ditutup sehingga pergerakan tertahan.
Dia berharap kedua belah pihak mau melakukan gencatan senjata demi kemanusiaan. Tanpa itu, maka korban akan semakin berjatuhan.
Dalam perkembangan terbaru sejak konflik pecah Oktober lalu, RS Indonesia mencatat jumlah korban meninggal yang dilarikan ke sana mencapai 1.784 orang dan 4.666 orang dirawat.
Hingga kini, masih ada ratusan orang dirawat inap di RS Indonesia.
RS Indonesia adalah wajah pemerintah
Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Kibtiah, berkata RS Indonesia adalah wajah pemerintah Indonesia yang tak boleh diperlakukan semena-mena.
Karena meskipun dibangun dari sumbangan masyarakat, tapi banyak kalangan internasional menganggapnya bantuan pemerintah. Apalagi memakai nama negara.
Itu mengapa, menurut Tia, pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan pernyataan ‘mengecam atau mengutuk’ serangan yang dilancarkan militer Israel ke area sekitar RS Indonesia.
“RS Indonesia digempur mau ditaruh dimana muka Indonesia? Ini persoalan kehormatan negara, harusnya bersikap yang tegas,” ujar Tia kepada BBC News Indonesia, Jumat (10/11).
“Saya kecewa luar biasa kepada pemerintah Indonesia, kalau mengutuk doang nggak didengar,” sambungnya
“Saya ingin pemerintah setidaknya berkontribusi nyata lah. Jangan hanya bersuara di PBB, kalau RS Indonesia digempur apa yang akan dilakukan? Mengecam saja?”
Tia meminta pemerintah Indonesia untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara yang menyokong kedua belah pihak agar mau menghentikan ‘bantuan’ mereka dan melaksanakan gencatan senjata.
Misalnya menggunakan pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden AS, Joe Biden, nanti untuk memaksa AS menghentikan perang.
Sebab jika RS Indonesia lumpuh menandakan posisi Kota Gaza semakin lemah dan akan makin mustahil terjadi dialog antara kedua belah pihak.
Dia juga memperkirakan eskalasi konflik semakin panas. Kota Gaza akan digempur habis-habisan.
“Saat 2007, pihak Israel tidak ada korban jatuh saja, korban di Gaza ribuan. Sekarang di Israel ada korban seribuan lebih kebayang kan balasannya akan seperti apa?”






